Mengupas Pertarungan Smartphone Huawei VS Samsung di Pasar Smartphone 5G

Teknologi Handphone – Wabah Virus Corona yang merebak ke seluruh dunia membuat industri smartphone kalang kabut, Tercatat pengiriman smartphone global turun 13,3 persen pada kuartal pertama 2020, Penjual di bulan Februari saja anjlok 38 persen, Hanya sebesar 60 juta unit.

Mengupas Pertarungan Smartphone Huawei VS Samsung di Pasar Smartphone 5G

Di China selama periode Januari-Februari 2020, Permintaan smartphone menurun tajam, Padahal segai pusat manifactur China menangani setidaknya 50 persen produk smartphone global, Sehingga wabah Virus Corona jelas berdampak buruk pada China dan juga pasar global.

Merujuk data yang di keluarkan Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China (CAICT) total pengiriman keseluruh Vendor di pasar domestik turun sebesar 54,7 persen tahun ke tahun menjadi 6,3 juta unit selama periode tersebut,Pengiriman anjlok 42,1 persen hanya menjadi 26,7 juta unit.

Itu adalah level terendah sejak Februari 2012 ketika (CAICT) mulai merilis data demikian laporan kantor berita Reuters.

penurunan permintaan merupakan imbas dari kebijakan pemerintah China, Pada akhir Januari lalu , Seiring dengan mulai meningkatnya jumlah korban akibiat Virus Corona otoritas China membatasi perjalanan, Menutup pabrik dan meminta masyrakat untuk bekerja dari rumah dalam upaya membatasi penyebaran virus mematikan itu.

Mengupas Pertarungan Smartphone Huawei VS Samsung di Pasar Smartphone 5G

Langkah itu diikuti oleh semua pabrikan termasuk Apple Raksasa asal Cupertino (California) itu akhirnya menutup sementara semua gerai ritelnya di daratan China pada awal Februari 2020 Alhasil selama bulan tersebut Apple hanya mengirimkan sekitar setengah juta iPhone karena anjloknya permintaan.

Menariknya setelah turun tajam pada Januari-Februari Pasar Smartphone di China berangsur-angsur terlihat pulih, Keputusan pemerintah mencabut kebijakan LockDown yang sebelumnya diberlakukan di banyak kota setelah menurunnya jumlah penderita Corona, Berdampak pada membaiknya permintaan, Khususnya smartphone 5G yang mulai naik daun di negri itu sejak akhir tahun lalu.

CAICT mengungkapkan pengiriman smartphone 5G di pasar domestik selama Maret mencapai 6,21 juta unit dibandingkan denga 2,38 juta pada bulan Februari, Terlepas dari dempak negatif dari pandemic Corona, Pengiriman pada Q1-2020 mencapai 14,06 juta unit, Melampau total 13,8 juta di seluruh 2019. Sejumlah Vendor tercatat meluncurkan 43 model 5G pada kuartel pertama 2020 dibandingkan dengan 35 model pada 2019.

Sebelum wabah corona menyebar ke seluruh negri permintaan smartphone 5G menunjukan tren peningkatan setelah tiga operator utama negara itu (China Union,China Unicom, dan China Telecom) mengkomersialisasikan layanan 5G pada tanggal 31 Oktober 2019.

Tercatat pengiriman peranti 5G di negara itu berlipat dua bulan ke bualn di November 2019 menjadi 5,1 juta, Permintaan semakin melinjak yaitu 5,4 juta dikiirimkan pada Desember 2019 dan 5,5 juta pada Januari.

Sebagai Front Runner bersama Korea Selatan dan AS, China saat ini memang menjadi pusat penjualan smartphone 5G, Berdasarkan laporan Counterpoin Research, Pengapalan smartphone 5G secara global hampir setengahnya dikirim ke negri Tirai Bambu itu sepanjang 2019.

Dalam Periode itu Counterpoint menyebutkan pengapalan ponsel 5G di China mencapai 48 persen dimana merek Huawei dan termasuk Honor (Sub-Brand Huawei) menjadi rajanya dengan penguasaan sebesar 74 persen.

Sementara itu Samsung yang merupakan Pemimpin pasar dunia hanya menguasai 40 persen market share itu pun lebih banyak di luar China karena sejak beberapa tahun terakhir Chaebol Korea itu hanya memiliki pangsa pasar disana.

Medan Pertempuran Baru

Mengupas Pertarungan Smartphone Huawei VS Samsung di Pasar Smartphone 5G

Seiring dengan meningkatnya permintaan, Kue Smartphone 5G memang semakin gurih bagi vendor ponsel, Perusahaan jasa keuangan perbankan dan investasi yang berbasis di AS Goldman Sachs, Bahkan memperkirakan pengiriman smartphone 5G secara Global bisa mencapi 200 juta unit sepanjang 2020, Dengan hampir setengahnya diserap oleh China.

Nilai tersebut sekitar 20 kali lebih banyak dari angka penjualan 2019, Perkiraan bahwa 2020 menjadi titk balik bagi penjualan smartphone 5G, Didasarkan pada meluasnya pembangunan BTS 5G dan agresifitas vendor-vendor China yang mengguyur oasar dengan produk-produk baru.

Sekedar diketahui, Setelah komersialisasi 5G pada Oktober lalu, China terus menggenjot pembangunan 5G, Dilansir dari Reuters, Beijing telah lama mempertimbangkan membangun 5G harus menjadi perioritas strategis, Menyusul pembentukan jaringan 3G yang relatif terlambat.

Menurut laporan Kementrian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT), China telah membangun 130.000 BTS sepanjang 2019, Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 600.000 unit pada akhir 2020, Hal ini menunjukan, Investasi akan terus digelontarkan tanpa pengaruh wabah Corona.

Dengan kue yang semakin membesar, Persaingan di ranah 5G kini tak hanya didominasi oleh vendor-vendor yang sudah mapan, Seperti Apple, Samsung, dan Huawei, Namun juga OPPO, Vivo, dan Xiaomi, Bahkan Vendor – Vendor di lapis ketiga mulai unjuk gigi, Seperti yang ditunjukkan oleh Realme,TCL,Coolpad,ZTE,Nokia, dan Motorola.

Tak diragukan lagi denganterjunnya vendor-vendor lapis ketiga, Pasar smartphone 5G sudah menjadi medan pertempuran baru bagi merek-merek smartphone global, Khususnya China yang semakin meraksasa.

Selain Realme 5G,Coolpad 5G, dan TCL, Tahun ini diketahui sejumlah smartphone 5G akan hadir di pasar, Seperti Samsung Galaxy S10 5G, LG V50 ThinQ, OnePlus 7 Pro, OPPO Reno 5G, Nokia 9 PureView, dan Moto Z4 Motorola yang dihubungkan dengan mod Moto 5G.

Meski persaingan mulai memanas, Dalam kajian lembaga riset terkemuka Strategi Analytics vendor nomor dua dunia, Huawei akan muncul sebagai pemenang utama dalam pertarungan perlombaan 5G, Dalam sebuah peryataan, Firma analis mengatakan bahwa Huawei berada pada posisi terbaik untuk menangkap lebih banyak penjualan ponsel pintar 5G China.

Huawei dapat memanfaatkan keberhasilan itu untuk mendorong posisi yang lebih baik di pasar smartphone global yang belakangan menurun gara-gara sanksi dari AS.

Menurut Ville Petteri-Ukonaho, Associate Director Strategy Analytics, tak diragukan lagi bahwa China akan memegang kunci volume penjualan perangkat 5G pada tahun 2020 ini.

Perusahaan yang dapat meraih pangsa pasar perangkat 5G terbanyak, tentunya akan memiliki pengaruh besar untuk menggerakkan kurva belajar (learning curve), baik dari sisi produksi maupun penyebaran perangkat 5G,” ujar Ville.

Disisi lain SVP Strategy Analytics, David Kerr mencatat bahwa Samsung saat ini adalah vendor pembuat perangkat 5G terkemuka, Sayangnya Samsung tidak berkutik di pasar China, Padahal negri Tirai Bambu itu saat ini menyerap smartphone 5G terbanyak dibandingkan negara-negara front runner lainnya.

Selain kecilnya perolehan pasar Samsung di China, Huawei juga diuntungkan dengan langkah Apple yang masih menunda smartphone 5G-nya meluncur ke pasar Vendor yang kini dikomandani oleh Tom Cook itu, Dikabarkan baru berencana melepas handset 5G pada September 2020 mendatang.

Karena China diperkirakan akan menjadi pasar smartphone 5G terbesar, Dengan penjualan mencapai 80 juta unit pada 2020 maka jalur ini menjadi jelas bagi Huawei untuk mengambil keuntungan.

Huawei semakin mempercepat dan mengintensikan upayanya di pasar dalam negri untuk menghadapi ketidakpastian internasional akibat tekanan AS kata David Kerr.

David menambahkan, Pada Q2 2019 Huawei telah memperluas pangsa pasar ponsel pintar di negara domestik menjadi hampir 40 persen, Jauh melampau semua pesaing lainnya.

Jika China memenuhi target agresifnya, Huawei dapat memotong kepemimpinan Samsung 5G secara mendalam memposisikannya untuk pemulihan dan pertumbuhan di Eropa barat dan pasar Global lainnya.

Meski pemimpin pasar smartphone 5g, Langkah Huawei sejatinya tidaklah mudah, Smartphone besutan Huawei saat ini merupakan penjualan yang menantang di luar negri karena daftar hitam AS.

Kebijakan itu memaksa Google menghapus akses ke berbagai aplikasi favorit seperti YouTube, Google Maps dan Google Play, Namun CEO bisnis konsumen Huawei Yu Chengdong menyakinkan pengguna ponsel Huawei akan baik-baik saja bahkan tanpa komponen AS.

Dia mengatakan bahwa investasi Huawei dalam R&D akan menjadi yang terbesar kedua pada tahun 2020, Sementara beberapa pesaing hanya menghabiskan satu millyar Yuan dalam R&D, Namun Huawei menginvestasikan hingga $20 Millyar.

Pada tahun 2019 perusahaan mengalokasikan sekitar $18,5 Millyar dalam R&D (terbesar ketiga) yang menyumbang 15,3 persen dari total pendapatan 467,3 Millyar Yuan dengan 34 persen pertumbuhan YOY.

Rebound Samsung

Mengupas Pertarungan Smartphone Huawei VS Samsung di Pasar Smartphone 5G

Sebagai teknologi baru, smartphone 5G tentu masih membutuhkan pijakan sebelum menjangkau pasar yang lebih luas. Persoalannya saat ini konsumen dihadapkan pada line up yang terbilang masih terbatas. Hingga kuartal pertama 2020, rata-rata vendor hanya memiliki kurang dari lima smartphone 5G.

Persoalan utama lainnya adalah menyangkut harga. Dengan harga rata-rata di atas 15 – 30 juta, smartphone 5G terbilang mahal untuk kantung orang kebanyakan. Alhasil, kehadiran smartphone 5G dengan harga terjangkau menjadi dambaan.

Meskipun ada beberapa seri smartphone 5G dengan harga paling terjangkau, yakni sekitar CNY2.000 atau USD290 (Rp3,9 juta), namun harga rata-rata untuk perangkat dengan dukungan jaringan tercepat ini sekitar CNY3.000 atau USD430 (Rp5,8 juta) atau lebih tinggi.

Itu sebabnya, seiring dengan meningkatnya pembangunan jaringan 5G, vendor saat ini berlomba merilis jajaran smartphone dengan harga yang tak bikin kantung konsumen bolong-bolong. Tak terkecuali dengan Samsung.

Meski dibayangi kedigdayaan Huawei, Samsung berusaha keras untuk menjadi pemain terdepan di pasar smartphone 5G. Raksasa Korsel itu berencana merilis smartphone 5G dengan harga yang ramah di kantung konsumen.

Selain upaya meneguhkan posisi sebagai vendor terdepan dalam teknologi 5G, langkah ini diambil Samsung agar bisa kembali bangkit selepas pandemi Covid-19 yang merugikan. Sekaligus berusaha rebound di sisa akhir 2020.

Pembuat handset nomor satu di dunia saat ini mengalami penurunan produksi yang drastis karena penutupan pabrik, serta permintaan global yang juga anjlok. Tak tanggung-tanggung, akibat wabah corona produksi smartphone Samsung berkurang sekitar 60 persen secara keseluruhan untuk April 2020 dibandingkan dengan “rata-rata produksi bulanan sebelumnya.”

Alhasil, seperti dilaporkan media teknologi Korea Selatan The Elec Samsung dilaporkan berencana memproduksi hanya 10 juta unit smartphone pada April 2020. Angka itu jauh menurun dari 25 juta unit untuk bulan “normal.

Sebelumnya di ranah 5G, hingga kuartal pertama 2020, Samsung telah merilis enam handset. Masing-masing Galaxy Fold, Galaxy S10 5G, Galaxy Note10 5G, Galaxy Note10+ 5G, Galaxy A90 5G, dan Galaxy A71 5G.

Di pasar AS, harga jual Galaxy A51 5G adalah $499,99 (Rp7,7 juta) dan Galaxy A71 5G dibanderol $599,99 (Rp9,2 juta). Jika dibandingkan dengan smartphone 5G pertama dari Samsung yakni Galaxy S10 5G yang dibanderol $1299 (Rp20 juta), vendor yang berbasis di Seoul itu, sudah memangkas harga kedua smartphone 5G-nya sebesar 62 persen.

Artinya, dalam beberapa waktu ke depan bukan tak mungkin bagi Samsung untuk merilis perangkat 5G dengan harga terjangkau. Sehingga konsumen memiliki banyak pilihan. Kendati demikian, perlu diketahui, informasi mengenai perangkat 5G Samsung dengan harga terjangkau masih sangat terbatas.

Flagship Huawei

Mengupas Pertarungan Smartphone Huawei VS Samsung di Pasar Smartphone 5G

Rencana Samsung merilis smartphone 5G murah, Tampaknya tak bisa dilepaskan dengan langkah Huawei, Sebelumnya pada akhir Januari 2020 Vendor yang berbasis di Shenzen itu, Mengumumkan bakal merilis smartphone 5G murah pada akhir 2020 atau awal 2021.

Tak tanggung-tanggung, Smartphone 5g Besutan Huawei itu, Bakal dirilis dengan harga murah meriah, Yaitu hanya dengan kisaran USD 150$ atau sekitar Rp2 jutaan, Sehingga smartphone yang dipasarkan dengan kisaran harga tersebut, Akan memungkinkan lebih banyak konsumen menikmati pengalaman baru, Terutama kecepatan yang ditawarkan oleh jaringan terbaru.

Beberapa dengan Samsung yang sudah menelurkan enam varian smartphone 5G, Sejauh ini Huawei baru memiliki empat line-up, Masing-Masing MatePade Pro 5G, Mate 20 X 5G, Mate X dan Mate Xs.

Sekedar diketahui, Mate Xs adalah varian terbaru yang diluncurkan untuk pasar global pada akhir Februari lalu, saat wabah corona mulai meluas penyebarannya ke berbagai negara. Smartphone kelas premium ini merupakan penerus dari varian sebelumnya, Mate X yang pertama kali diluncurkan saat gelaran MWC, bulan yang sama 2019.

Baik Mate X maupun Mate Xs memang terbilang flagship. Dalam sebuah paparan publik, CEO bisnis konsumen Huawei Yu Chengdong mengungkapkan bahwa perusahaan sejauh ini telah kehilangan sekitar $60 hingga $70 juta dolar dalam penjualan ponsel pintar Mate Xs yang dapat dilipat, meskipun harganya 16.999 Yuan ($2.267).

“Harga flagships tinggi karena besarnya biaya produksi, sehingga jika biaya tampilan fleksibel turun maka dimungkinkan untuk mendapat untung,” ujar Yu Chengdong.

Karena tergolong smartphone kelas super premium, harga Mate Xs bisa bikin kita terkaget-kaget. Di Indonesia sendiri, masyarakat sudah bisa memesan smartphone canggih ini (20 Maret–14 April 2020). Namun untuk bisa menikmatinya, konsumen perlu merogoh kocek Rp38.999.000.