Ini Kisah si Remaja 16 Tahun yang Bisa Membuat Jaringan ISP Down

Teknologi, Jakarta – Seorang anak remaja yang berusia 16 tahun asla dari Kota Odessa, Ukraina harus ditangkap oleh kepolisian karena menyerang dan membuat down jaringan sebuah internet service provider (ISP) pada negara tersebut.

Dimana si remaja yang tidak bisa disebutkan namanya itu berawal dari memaksa ISP lokal itu untuk memberikan data dari salah seorang pelanggannya. Akibatdari permintaannya tersebut di tolak, ia pun melakukan serangan distriubted denial of service (DDos) yang berhasil membuat seluruh jaringan ISP tersebut down.

Serangan tersebut ,yang terjadi di tahun 2019 lalu, berdampak cukup besar sekali, cukup untuk membuat pihak ISP menghubungi pijak berwajib dan melaporkan kerjadian tersebut, Kamis (06/02).

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan polisi cyber Ukraina menyelidiki keberadaan remaja tersebut, yang kemudian diketahui bertempatkan di Kota Odessa. Ia akhirnya di tangkap pada Januari lalu.

Polisi pun menyita sejumlah perangkat punya remaja tersebut. Dalam penyelidikan awal, polisi menemukan ada software yang digunakan buat melakukan serangan DDOS tersebut beserta dengan 20 akun pada bebragai forum hacker.

Tidak banyak informasi yang dikeluakan oleh pihak kepolisian Ukraina, termasuk data siapa yang akan diminta oleh si remaja tersebut.

Ini bukan kejadian pertama dimana ada jaringan milik ISP bisa down karena serangan DDoS dari botnet, yang terbilang cukup sedeerhana sekali. Kejadian seperti ini sebelumnya telah terjadi di Liberia, Kamboja dan yang terbaru ada di Afrika Selatan.

Pada saat melakukan serangan DDoS, metode yang sering digunakan yaitu dengan mengerahkan ‘pasukan’ botnet buat membanjiri lalu lintas si target. Tetapi ada juga yang menggunakan metode lebih canggih lagi, seperti pada negera Afrika Selatan, yaitu metode carpet-bombing.

Metode ini sangat berbeda dengan si pelaku tidak langsung menyerang ke server milik korban, melainkan ‘mengirim’ lalu lintas data palsu ke para pengguna koneksi dari ISP korban. Lalu lintas palsu ini memang tidak cukup besar untuk membuat down koneksi milik konsumen, namun jika digabungkan dengan serangan ke konsumen yang lainnya, lalu lintas terbilang besar dan bisa membuat down setiap jaringannya.

Carpet-bombing ini tidak bisa mengakali solusi yang mungkin akan diterapkan oleh setiap perusahaan untuk menghindari serangan DDoS. Solusi seperti itu biasanya hanya mendeteksi lonjakan lalu lintas ada hanya pada satu titik saja.

Tetapi karena serangan tersebut dilakukan ke banyak komputer yang sebelumnya harus melalui server ISP, maka yang terdampak adalah server mili ISP tersebut. Dengan begitu carpet-bombing ini biasanya hanya diterapkan pada serangan DDoS ke ISP.