Siswa SMK Tegal Membuat Motor Chopper Melalui Limbah Logam

Teknologi, Teknologi Motor – Siswa-siswa SMK Bhakti Praja Adiwerna Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, berhasil membuat helikopter dan sepeda motor batu merah. Mesin itu dibuat dengan limbah logam.

Saat merakit kedua jenis sepeda motor ini, para siswa ini tidak harus menggunakan bahan toko. Siswa hanya menggunakan limbah industri berbasis logam yang meluas ke seluruh lingkungan sekolah. Peralatan yang digunakan cukup sederhana. Mereka membuat dua sepeda tidak memodifikasi.

“Siswa mengelola sepenuhnya dari awal hingga menjadi sepeda motor. Mereka tidak dimodifikasi. Mereka memproses produk bekas yang tidak digunakan,” kata Adi Fuju Harsono, Kepala Program Studi Teknik Komersial Sepeda Motor (TBSM), ketika mereka bertemu di sekolahnya, Kamis (12/09).

Program sekolah ini, kata Adi Fuju Harsono, bertujuan untuk menghasilkan siswa mandiri. Salah satu langkah yang diambil oleh Sekolah Kejuruan Adiwerna Bhakti Praja (BP), Kabupaten Tegal, mengajak siswa untuk bekerja dalam bentuk sepeda gaul. Yakni, sepeda motor helikopter yang digunakan Presiden Joko Widodo dan sepeda motor batu merah.

Dia menggunakan barang-barang yang potongan-potongan, antara lain, untuk membuat struktur tubuh, knalpot, kursi dan tangki bahan bakar. Barang bekas diperoleh dari industri logam dalam negeri, yang banyak tersedia di lingkungan sekolah. Sedangkan untuk mesin, siswa merakitnya dari komponen yang dibeli secara terpisah.

“Karena itu, itu bukan mesin yang lengkap atau siap pakai, tetapi siswa juga merakit mesin mereka sendiri. Kemudian mereka tahu cara membuat motor bermotor,” kata Adi.

Meski belum sempurna, sepeda motor chopper tidak kalah dengan sepeda motor yang diproduksi di bengkel sepeda motor profesional. Karakteristik sepeda motor gaya helikopter dapat dilihat dari stang tinggi, tangki kecil, hingga posisi kursi yang sangat rendah.

Menurut Adi, para siswa membuat dua sepeda motor chopper dan batu merah dalam empat bulan. Biaya pembuatannya sekitar Rp6 juta per sepeda motor.

“Sepeda motor bisa dikendarai, meskipun masih perlu disempurnakan karena alat untuk membuatnya juga manual, mereka tidak menggunakan alat dari industri manufaktur. Di masa mendatang, kami berharap dapat membuat pesanan sepeda motor yang sama,” katanya.

Sindoro Iza, salah satu siswa kelas XII TBSM, mengungkapkan, bagian tersulit yang harus dilakukan adalah dalam kerangka kerja. Karena mereka harus menemukannya dari tukang loak dan kemudian memprosesnya.

“Agar kerangka pondok besi dicari. Yang masih bisa digunakan diproses,” kata Sindoro.

Direktur sekolah kejuruan Bhakti Praja Adiwerna, Erfan Suparmono, mengatakan bahwa para siswa sekolah ini diundang untuk berinovasi membuat karya dari limbah besi. Mengingat bahwa Distrik Adiwerna adalah rumah bagi industri logam.

“Karena itu, sampah yang tidak terpakai dapat digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan,” katanya.