Mengembangkan Startup Membutuhkan Kurikulum Digital

Teknologi, Jakarta – Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) percaya bahwa pemerintah harus terus mengembangkan kurikulum khusus untuk menciptakan talenta digital sehingga pertumbuhan perusahaan baru atau perusahaan baru di Indonesia semakin berkembang.

Sebab, menurut MIKTI, masih ada banyak celah atau kesenjangan antara lulusan universitas dan kebutuhan industri digital.

“Itulah sebabnya MIKTI menciptakan kurikulum untuk pengembangan bakat. Ini adalah [kesenjangan] kesenjangan yang cukup lebar antara lulusan [universitas] kami dan kebutuhan industri [digital],” kata presiden MIKTI Joddy Hernady, kepada tim media di kantor Bekraf, Jakarta, Jumat (9/8).

“Di Telkom, kita juga membutuhkan talenta digital dan kemudian kita latih lagi. Padahal, kurikulum harus ditingkatkan jika kita ingin kesenjangan yang lebih kecil, jika idenya bagus, ada banyak, tetapi hanya idenya saja tidak cukup,” lanjutnya.

Oleh karena itu, MIKTI secara intensif melakukan program pelatihan untuk lulusan universitas di beberapa kota besar, seperti Bandung, Yogyakarta dan Malang, terutama lulusan di bidang IT.

Setelah mendapatkan talenta yang sesuai dengan kriteria, MIKTI akan memfasilitasi tempat kerja dan menyediakan mentor Jabodetabek.

“Begitu bakat memiliki ruang kerja, kami memfasilitasinya. Kemudian, setelah itu, ada seorang mentor, tetapi seorang mentor hebat dari Jabodetabek datang, jadi jika Anda diundang untuk berbagi itu akan lebih mudah,” jelas Joddy.

Selain mengembangkan kurikulum, MIKTI juga berencana untuk memiliki inkubator online. Inkubator adalah program untuk merebus ide startup menjadi model bisnis yang layak sehingga dapat dibawa ke fase baru pembiayaan.

“Inkubasinya online, kami sedang menciptakan platform. Kami mencoba memfasilitasi ini secara online, kami sedang mengembangkan kurikulum dan kami berharap perusahaan lain akan mengadopsinya. Mereka membuat inkubator, kami sudah memiliki kurikulum,” kata Joddy.

Sehubungan dengan pengembangan startup atau startup di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) bertujuan untuk menghasilkan 5.000 startup dalam 5 tahun ke depan.

Untuk mencapai tujuan 5.000 perusahaan baru dalam 5 tahun, Kemenkominfo bertujuan untuk mengevaluasi 4.000 perusahaan baru setiap tahun.