Kemenperin Ingin Membuat Sama Untuk Baterai Kendaraan Listrik

Teknologi, Teknologi Motor – Setiap pabrikan yang memproduksi kendaraan listrik mempertahankan teknologinya masing-masing, terutama dalam baterai. Baterai yang berbeda ini tentu akan mempersulit pertumbuhan infrastruktur pendukung untuk kendaraan listrik seperti SPKLU atau pertukaran baterai. Jika baterainya sama, pengisian baterainya akan lebih mudah.

Untuk alasan ini, diyakini bahwa penerapan standar yang sama adalah solusi untuk meminimalkan ketakutan konsumen ketika menggunakan kendaraan listrik. Saat ini, Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) sedang bersiap untuk menggunakan norma PBB 136 atau disingkat UN R136.

“Sekarang kami telah menggunakan UN R136, kami telah melakukannya dengan AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia). Pekerjaan telah dilakukan dengan baterai untuk editor. Oleh karena itu, melibatkan banyak pihak yang berkepentingan, ada ahli copywriter, dan kemudian aturan dibuat, “kata Direktur Industri Kelautan, Tim Transportasi. dan Alat Pertahanan dari Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika di Jakarta.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Transportasi dan Elektronik, Harjanto, mengatakan adalah mungkin bagi kendaraan listrik yang menggunakan baterai untuk menggunakan baterai yang sama nantinya. Add-on diharapkan menggunakan tipe yang sama.

“Misalnya, colokan baterai standar, ukuran energinya tergantung pada pabrik, pesek harus sama atau ukuran aki sama sehingga bisa dipertukarkan dan yang lainnya. Kami berharap baterai bisa dipertukarkan dengan yang lain sehingga dapat digunakan oleh semua kendaraan listrik. ” arahnya menuju, “kata Harjanto.

Untuk mencapai ini juga melalui proyek percontohan ini dapat menghasilkan rekomendasi standar untuk baterai motor listrik di Indonesia. Penggunaan kendaraan listrik dengan sistem pertukaran akan membentuk bisnis baru dan akan dibandingkan dengan efektivitas dan efisiensi plug-in jenis ini.

“Ini masih dipelajari nanti dari hasil penelitian bahwa akan ada rekomendasi tentang bagaimana kita menangani baterai kita berdasarkan standar apa setelah itu, model pengembangan bisnis seperti apa. Jadi studi yang lengkap,” simpul Putu.