Hoax Bersemi Kembali, Menggunakan WhatsApp Harus Bayar

Teknologi, Teknologi Media – Peristiwa error teranyar pada layanannya membuat WhatsApp menjadi korban hoax “model lama”, seputar pengguna pesan instan tersebut tidak lagi bisa menggunakannya secara gratis alias harus membayar.

Kembali berseminya hoax tersebut secara spesifik memanfaatkan insiden baru-baru ini ketika layanan WhatsApp terganggu sehingga para pengguna mengalami kendala mengirim dan menerima konten berupa gambar ataupun video.

Nah, seperti yang diwartakan IndianExpress, hoax lama ini kembali bersemi di India melalui bergulirnya broadcast kepada para pengguna WhatsApp bahwa layanan pesan Instan tersebut akan di banned selama sepekan. Selain mengatakan satelit, pesan haox tersebut berusaha dikesankan resmi karena ditutup dengan kata “Terima Kasih Google”.

Yang jeli tentu saja akan merasa aneh karena WhatsApp dimiliki oleh Facebook sehingga janggal jika nasib mereka diputuskan langsung oleh Google. Ada pula salah ketik sana-sini dalam pesan broadcast hoax tersebut.

Selain itu, ada pula pesan broadcast yang mengatakan WhatsApp akan dimatikan pada tengah malam hingga pukul 6 pagi di India. Bahkan Perdana Menteri India Narendra Modi juga iktu disebut-sebutkan namanya.

Ujung-ujungnya, pesan broadcast hoax tersebut juga turut menyebutkan bahwa sejumlah akun WhatsApp akan ditutup dan bahkan berbayar dalam waktu dekat. Hoax ini juga meminta pengguna menyebar sebanyak-sebanyaknya pesan broadcast tersebut agar bisa menggunakan WhatsApp.

Bukan kali ini saja berita hoax tersebut beredar. Faktanya, WhatsApp masih merupakan salah satu layanan pesan instan gratis dan sejauh ini Facebook belum menunjukkan niatannya membuat jadi berbayar. Untuk monetisasi, Facebook baru saja ingin menyisikan iklan pada bagian status WhatsApp.

Tapi, dalam beberapa waktu terakhir WhatsApp memang bisa dikatakan sering mengalami gangguan, bersama-sama dengan Instagram dan Facebook. Ini merupakan bagian celah sehingga hoax dan misinformasi gaya juga menjadi bersemi kembali dengan maraknya.