Pengguna Sudah Bisa Mengakses WhatsApp dan Medsos Secara Normal

Teknologi, Teknologi Media – Sesudah sempat dilakukan pembatasan pengguna, akses WhatsApp dan Media sosial sudah kembali normal. Hal tersebut dipastikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

“Keadaan kerusuhan sudah kondusif kembali sehingga pembatasan yang dilakukan dalam mengakses fitur video dan gambar pada media sosial dan instant messanging pun dicabut kembali. Insya Allah antara jam 14.00 – 15.00 WIB sudah bisa kembali normal kembali,” ucap Rudiantara ketika dihubungi, Sabtu (25/05).

“Saya puna mengajak kepada seluruh masyarakat pengguna media sosial, instant messaging ataupun video file sharing untuk senantiasa menjaga dunia maya Indonesia bisa digunakan sebagai hal-hal yang positif. Ayo kita perangi hoax, fitnah, informasi-informasi yang ada tindakan provikasi seperti yang beredar ketika kerusuhan,” ucap pria yang sering disapa RA itu.

Untuk diketahui, dilakukan pembatasan dikarenakan akses ke medsos dan layanan messaging berlaku pada Rabu (22/05). Waktu itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto memberikan contoh gambaran berapa lama hal tersebut dilakukan.

“Pembatasan dalam mengakses media sosial dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kami berkeinginan seluruh masyarakat bisa mendapatkan informasi yang akurat. Jadi berkorban 2-3 hari tidak dapat melihat gambar juga tidak apa-apa, ini semata-mata demi keamanan nasional,” ucapnya pada konferensi pers Rabu (22/05).

Sementara itu, Rudiantara menyampaikan ada enam layanan yang aksesnya dilakukan pembatasan sekarang ini, yaitu Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, Line dan WhatsApp. ada pula yang dibatasi dalam dasar hanya sebatas gambar dan video saja, sementara teks dan panggilan telepon tetap dapat digunakan melalui keenam layanan tersebut.

Usaha pembatasan ini dilakukan demi mengurangi provokasi dari aksi yang terjadi beberapa hari lalu. Mengacu pada faktor psikologis, emosi masyarakat mudah terpancing sesudah melihat isi foto dan video.

“Dengan sistem komunikasi (suara) tidak masalah, Yang kita tahankan sementara yang tidak diaktifkan itu video, foto dan gambar. Sebab secara psikologi video dan gambar itu dapat membangkitkan emosi setiap orang,” terangnya.

“Jika teks orang akan membaca terlebih dahulu, ada kesempatan berpikir, meniliat benar atau tidak, sesuai dengan hati nurani atau tidak,” ucap Rudiantara.